Wednesday, July 1, 2009

13 hal yang disukai pria shalih dari wanita yg shalih...^_^

Cinta adalah fitrah manusia. Cinta juga salah satu bentuk kesempurnaan penciptaan yang Allah berikan kepada manusia. Allah menghiasi hati manusia dengan perasaan cinta pada banyak hal. Salah satunya cinta seorang lelaki kepada seorang wanita, demikian juga sebaliknya.

Rasa cinta bisa menjadi anugerah jika luapkan sesuai dengan bingkai nilai-nilai ilahiyah. Namun, perasaan cinta dapat membawa manusia ke jurang kenistaan bila diumbar demi kesenangan semata dan dikendalikan nafsu liar.

Islam sebagai syariat yang sempurna, memberi koridor bagi penyaluran fitrah ini. Apalagi cinta yang kuat adalah salah satu energi yang bisa melanggengkan hubungan seorang pria dan wanita dalam mengarungi kehidupan rumah tangga. Karena itu, seorang pria shalih tidak asal dapat dalam memilih wanita untuk dijadikan pendamping hidupnya.

Ada banyak faktor yang bisa menjadi sebab munculnya rasa cinta seorang pria kepada wanita untuk diperistri. Setidak-tidaknya seperti di bawah ini.

1. Karena akidahnya yang Shahih

Keluarga adalah salah satu benteng akidah. Sebagai benteng akidah, keluarga harus benar-benar kokoh dan tidak bisa ditembus. Jika rapuh, maka rusaklah segala-galanya dan seluruh anggota keluarga tidak mungkin selamat dunia-akhirat. Dan faktor penting yang bisa membantu seorang lelaki menjaga kekokohan benteng rumah tangganya adalah istri shalihah yang berakidah shahih serta paham betul akan peran dan fungsinya sebagai madrasah bagi calon pemimpin umat generasi mendatang.

Allah menekankah hal ini dalam firmanNya, “Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” (Al-Baqarah: 221)

2. Karena paham agama dan mengamalkannya

Ada banyak hal yang membuat seorang lelaki mencintai wanita. Ada yang karena kemolekannya semata. Ada juga karena status sosialnya. Tidak sedikit lelaki menikahi wanita karena wanita itu kaya. Tapi, kata Rasulullah yang beruntung adalah lelaki yang mendapatkan wanita yang faqih dalam urusan agamanya. Itulah wanita dambaan yang lelaki shalih.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda, “Wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka, ambillah wanita yang memiliki agama (wanita shalihah), kamu akan beruntung.” (Bukhari dan Muslim)

Rasulullah saw. juga menegaskan, “Dunia adalah perhiasan, dan perhiasan dunia yang paling baik adalah wanita yang shalihah.” (Muslim, Ibnu Majah, dan Nasa’i).

Jadi, hanya lelaki yang tidak berakal yang tidak mencintai wanita shalihah.

3. Dari keturunan yang baik

Rasulullah saw. mewanti-wanti kaum lelaki yang shalih untuk tidak asal menikahi wanita. “Jauhilah rumput hijau sampah!” Mereka bertanya, “Apakah rumput hijau sampah itu, ya Rasulullah?” Nabi menjawab, “Wanita yang baik tetapi tinggal di tempat yang buruk.” (Daruquthni, Askari, dan Ibnu ‘Adi)

Karena itu Rasulullah saw. memberi tuntunan kepada kaum lelaki yang beriman untuk selektif dalam mencari istri. Bukan saja harus mencari wanita yang tinggal di tempat yang baik, tapi juga yang punya paman dan saudara-saudara yang baik kualitasnya. “Pilihlah yang terbaik untuk nutfah-nutfah kalian, dan nikahilah orang-orang yang sepadan (wanita-wanita) dan nikahilah (wanita-wanitamu) kepada mereka (laki-laki yang sepadan),” kata Rasulullah. (Ibnu Majah, Daruquthni, Hakim, dan Baihaqi).

“Carilah tempat-tempat yang cukup baik untuk benih kamu, karena seorang lelaki itu mungkin menyerupai paman-pamannya,” begitu perintah Rasulullah saw. lagi. “Nikahilah di dalam “kamar” yang shalih, karena perangai orang tua (keturunan) itu menurun kepada anak.” (Ibnu ‘Adi)

Karena itu, Utsman bin Abi Al-’Ash Ats-Tsaqafi menasihati anak-anaknya agar memilih benih yang baik dan menghindari keturunan yang jelek. “Wahai anakku, orang menikah itu laksana orang menanam. Karena itu hendaklah seseorang melihat dulu tempat penanamannya. Keturunan yang jelek itu jarang sekali melahirkan (anak), maka pilihlah yang baik meskipun agak lama.”

4. Masih gadis

Siapapun tahu, gadis yang belum pernah dinikahi masih punya sifat-sifat alami seorang wanita. Penuh rasa malu, manis dalam berbahasa dan bertutur, manja, takut berbuat khianat, dan tidak pernah ada ikatan perasaan dalam hatinya. Cinta dari seorang gadis lebih murni karena tidak pernah dibagi dengan orang lain, kecuali suaminya.

Karena itu, Rasulullah saw. menganjurkan menikah dengan gadis. “Hendaklah kalian menikah dengan gadis, karena mereka lebih manis tutur katanya, lebih mudah mempunyai keturunan, lebih sedikit kamarnya dan lebih mudah menerima yang sedikit,” begitu sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Baihaqi.

Tentang hal ini A’isyah pernah menanyakan langsung ke Rasulullah saw. “Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika engkau turun di sebuah lembah lalu pada lembah itu ada pohon yang belum pernah digembalai, dan ada pula pohon yang sudah pernah digembalai; di manakah engkau akan menggembalakan untamu?” Nabi menjawab, “Pada yang belum pernah digembalai.” Lalu A’isyah berkata, “Itulah aku.”

Menikahi gadis perawan akan melahirkan cinta yang kuat dan mengukuhkan pertahanan dan kesucian. Namun, dalam kondisi tertentu menikahi janda kadang lebih baik daripada menikahi seorang gadis. Ini terjadi pada kasus seorang sahabat bernama Jabir.

Rasulullah saw. sepulang dari Perang Dzat al-Riqa bertanya Jabir, “Ya Jabir, apakah engkau sudah menikah?” Jabir menjawab, “Sudah, ya Rasulullah.” Beliau bertanya, “Janda atau perawan?” Jabir menjawab, “Janda.” Beliau bersabda, “Kenapa tidak gadis yang engkau dapat saling mesra bersamanya?” Jabir menjawab, “Ya Rasulullah, sesungguhnya ayahku telah gugur di medan Uhud dan meninggalkan tujuh anak perempuan. Karena itu aku menikahi wanita yang dapat mengurus mereka.” Nabi bersabda, “Engkau benar, insya Allah.”

5. Sehat jasmani dan penyayang

Sahabat Ma’qal bin Yasar berkata, “Seorang lelaki datang menghadap Nabi saw. seraya berkata, “Sesungguhnya aku mendapati seorang wanita yang baik dan cantik, namun ia tidak bisa melahirkan. Apa sebaiknya aku menikahinya?” Beliau menjawab, “Jangan.” Selanjutnya ia pun menghadap Nabi saw. untuk kedua kalinya, dan ternyata Nabi saw. tetap mencegahnya. Kemudian ia pun datang untuk ketiga kalinya, lalu Nabi saw. bersabda, “Nikahilah wanita yang banyak anak, karena sesungguhnya aku akan membanggakan banyaknya jumlah kalian di hadapan umat-umat lain.” (Abu Dawud dan Nasa’i).

Karena itu, Rasulullah menegaskan, “Nikahilah wanita-wanita yang subur dan penyayang. Karena sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya kalian dari umat lain.” (Abu Daud dan An-Nasa’i)

6. Berakhlak mulia

Abu Hasan Al-Mawardi dalam Kitab Nasihat Al-Muluk mengutip perkataan Umar bin Khattab tentang memilih istri baik merupakan hak anak atas ayahnya, “Hak seorang anak yang pertama-tama adalah mendapatkan seorang ibu yang sesuai dengan pilihannya, memilih wanita yang akan melahirkannya. Yaitu seorang wanita yang mempunyai kecantikan, mulia, beragama, menjaga kesuciannya, pandai mengatur urusan rumah tangga, berakhlak mulia, mempunyai mentalitas yang baik dan sempurna serta mematuhi suaminya dalam segala keadaan.”

7. Lemah-lembut

Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari A’isyah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Wahai A’isyah, bersikap lemah lembutlah, karena sesungguhnya Allah itu jika menghendaki kebaikan kepada sebuah keluarga, maka Allah menunjukkan mereka kepada sifat lembah lembut ini.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Jika Allah menghendaki suatu kebaikan pada sebuah keluarga, maka Allah memasukkan sifat lemah lembut ke dalam diri mereka.”

8. Menyejukkan pandangan

Rasulullah saw. bersabda, “Tidakkah mau aku kabarkan kepada kalian tentang sesuatu yang paling baik dari seorang wanita? (Yaitu) wanita shalihah adalah wanita yang jika dilihat oleh suaminya menyenangkan, jika diperintah ia mentaatinya, dan jika suaminya meninggalkannya ia menjaga diri dan harta suaminya.” (Abu daud dan An-Nasa’i)

“Sesungguhnya sebaik-baik wanitamu adalah yang beranak, besar cintanya, pemegang rahasia, berjiwa tegar terhadap keluarganya, patuh terhadap suaminya, pesolek bagi suaminya, menjaga diri terhadap lelaki lain, taat kepada ucapan dan perintah suaminya dan bila berdua dengan suami dia pasrahkan dirinya kepada kehendak suaminya serta tidak berlaku seolah seperti lelaki terhadap suaminya,” begitu kata Rasulullah saw. lagi.

Maka tak heran jika Asma’ binti Kharijah mewasiatkan beberapa hal kepada putrinya yang hendak menikah. “Engkau akan keluar dari kehidupan yang di dalamnya tidak terdapat keturunan. Engkau akan pergi ke tempat tidur, di mana kami tidak mengenalinya dan teman yang belum tentu menyayangimu. Jadilah kamu seperti bumi bagi suamimu, maka ia laksana langit. Jadilah kamu seperti tanah yang datar baginya, maka ia akan menjadi penyangga bagimu. Jadilah kamu di hadapannya seperti budah perempuan, maka ia akan menjadi seorang hamba bagimu. Janganlah kamu menutupi diri darinya, akibatnya ia bisa melemparmu. Jangan pula kamu menjauhinya yang bisa mengakibatkan ia melupakanmu. Jika ia mendekat kepadamu, maka kamu harus lebih mengakrabinya. Jika ia menjauh, maka hendaklah kamu menjauh darinya. Janganlah kami menilainya kecuali dalam hal-hal yang baik saja. Dan janganlah kamu mendengarkannya kecuali kamu menyimak dengan baik dan jangan kamu melihatnya kecuali dengan pandangan yang menyejukan.”

9. Realistis dalam menuntut hak dan melaksanakan kewajiban

Salah satu sifat terpuji seorang wanita yang patut dicintai seorang lelaki shalih adalah qana’ah. Bukan saja qana’ah atas segala ketentuan yang Allah tetapkan dalam Al-Qur’an, tetapi juga qana’ah dalam menerima pemberian suami. “Sebaik-baik istri adalah apabila diberi, dia bersyukur; dan bila tak diberi, dia bersabar. Engkau senang bisa memandangnya dan dia taat bila engkau menyuruhnya.” Karena itu tak heran jika acapkali melepas suaminya di depan pintu untuk pergi mencari rezeki, mereka berkata, “Jangan engkau mencari nafkah dari barang yang haram, karena kami masih sanggup menahan lapar, tapi kami tidak sanggup menahan panasnya api jahanam.”

Kata Rasulullah, “Istri yang paling berkah adalah yang paling sedikit biayanya.” (Ahmad, Al-Hakim, dan Baihaqi dari A’isyah r.a.)

Tapi, “Para wanita mempunyai hak sebagaimana mereka mempunyai kewajiban menurut kepantasan dan kewajaran,” begitu firman Allah swt. di surah Al-Baqarah ayat 228. Pelayanan yang diberikan seorang istri sebanding dengan jaminan dan nafkah yang diberikan suaminya. Ini perintah Allah kepada para suami, “Berilah tempat tinggal bagi perempuan-perempuan seperti yang kau tempati. Jangan kamu sakiti mereka dengan maksud menekan.” (At-Thalaq: 6)

10. Menolong suami dan mendorong keluarga untuk bertakwa

Istri yang shalihah adalah harta simpanan yang sesungguhnya yang bisa kita jadikan tabungan di dunia dan akhirat. Iman Tirmidzi meriwayatkan bahwa sahabat Tsauban mengatakan, “Ketika turun ayat ‘walladzina yaknizuna… (orang yang menyimpan emas dan perak serta tidak menafkahkannya di jalan Allah), kami sedang bersama Rasulullah saw. dalam suatu perjalanan. Lalu, sebagian dari sahabat berkata, “Ayat ini turun mengenai emas dan perak. Andaikan kami tahu ada harta yang lebih baik, tentu akan kami ambil”. Rasulullah saw. kemudian bersabda, “Yang lebih utama lagi adalah lidah yang berdzikir, hati yang bersyukur, dan istri shalihah yang akan membantu seorang mukmin untuk memelihara keimanannya.”

11. Mengerti kelebihan dan kekurangan suaminya

Nailah binti Al-Fafishah Al-Kalbiyah adalah seorang gadis muda yang dinikahkan keluarganya dengan Utsman bin Affan yang berusia sekitar 80 tahun. Ketika itu Utsman bertanya, “Apakah kamu senang dengan ketuaanku ini?” “Saya adalah wanita yang menyukai lelaki dengan ketuaannya,” jawab Nailah. “Tapi ketuaanku ini terlalu renta.” Nailah menjawab, “Engkau telah habiskan masa mudamu bersama Rasulullah saw. dan itu lebih aku sukai dari segala-galanya.”

12. Pandai bersyukur kepada suami

Rasulullah saw. bersabda, “Allah tidak akan melihat kepada seorang istri yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada suaminya, sedang ia sangat membutuhkannya.” (An-Nasa’i).

13. Cerdas dan bijak dalam menyampaikan pendapat

Siapa yang tidak suka dengan wanita bijak seperti Ummu Salamah? Setelah Perjanjian Hudhaibiyah ditandatangani, Rasulullah saw. memerintahkan para sahabat untuk bertahallul, menyembelih kambing, dan bercukur, lalu menyiapkan onta untuk kembali pulang ke Madinah. Tetapi, para sabahat tidak merespon perintah itu karena kecewa dengan isi perjanjian yang sepertinya merugikan pihak kaum muslimin.

Rasulullah saw. menemui Ummu Salamah dan berkata, “Orang Islam telah rusak, wahai Ummu Salamah. Aku memerintahkan mereka, tetapi mereka tidak mau mengikuti.”

Dengan kecerdasan dalam menganalisis kejadian, Ummu Salamah mengungkapkan pendapatnya dengan fasih dan bijak, “Ya Rasulullah, di hadapan mereka Rasul merupakan contoh dan teladan yang baik. Keluarlah Rasul, temui mereka, sembelihlah kambing, dan bercukurlah. Aku tidak ragu bahwa mereka akan mengikuti Rasul dan meniru apa yang Rasul kerjakan.”

Subhanallah, Ummu Salamah benar. Rasulullah keluar, bercukur, menyembelih kambing, dan melepas baju ihram. Para sahabat meniru apa yang Rasulullah kerjakan. Inilah berkah dari wanita cerdas lagi bijak dalam menyampaikan pendapat. Wanita seperti inilah yang patut mendapat cinta dari seorang lelaki yang shalih.

Saturday, April 18, 2009

DZIKRULLOH

Jika telah banyak ayat Al-Qur'an yang menyebutkan tentang dzikir, sebenarnya tidak perlu lagi mempersoalkan hadits-haditsnya, sebab Al-Qur'an berisi 30 juz, sedangkan hadits berjumlah sangat banyak (tidak terbatas). Berbagai kitab hadits yang setiap kitabnya mengandung hadits Nabi tidak terhitung banyaknya. Shahih Bukhari saja terdiri dari 30 juz dan Sunan Abu Dawud 32 juz. Dan masih banyak kitab-kitab besar lainnya) yang tidak lepas dari masalah dzikir. Siapakah yang dapat menentukan batasan jumlah hadits yang demikian banyak itu? Bagi yang berniat mengamalkannya, maka satu ayat dan satu hadits sudah memadai. Namun bagi yang tidak berniat mengamalkannya, meskipun bergudang-gudang kitab, tetaplah percuma, sebagaimana dimisalkan:
"Mereka seperti keledai yang membawa.kitab-kitab tebal" (Q.s. Al-Jumu'ah: 5J)

Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw. bersabda, "Allah berfirman, 'Aku bergantung pada sangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Dan Aku bersamanya jika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam hatinya., Aku pun mengingatnya dalam hati-Ku. Dan jika ia mengingat-Ku di suatu majelis, Aku pun mengingatnya dalam suatu majelis yang lebih baik.dari mereka (yaitu, majelis para malaikat yang ma'sum dan tanpa dosa). Dan jika ia mendekati-Ku sejengkal, Aku akan mendekatinya sehasta. Jika ia mendekati-Ku sehasta, Aku akan mendekatinya sedepa. Dan jika ia mendekati-Ku dengan berjalan, Aku akan mendekatinya dengan berlari." (Bukhari, Muslim, Ahmad).
Faedah
Hadits di atas mengandung beberapa pelajaran penting, yaitu: Pertama, hubungan Allah swt. dengan hamba-Nya menurut sangkaan hamba tersebut kepada Allah swt.. Maksudnya, agar seseorang selalu mengharap rahmat Allah dan jangan berputus asa. Kita mengakui bahwa kita adalah orang-orang yang berdosa, yang akan disiksa karenanya. Walaupun demikian, kita jangan berputus asa dari rahmat-Nya. Apa sulitnya bagi Allah Yang Maha Pengasih mengampuni dosa-dosa hamba-Nya? Allah swt. menjelaskan di dalam firman-Nya:

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya dan mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu." (Q.s. An-Nisaa': 48).

Oleh sebab itu, alim ulama menyatakan bahwa iman adalah antara harap dan takut kepada Allah swt.. Suatu ketika, Nabi saw. mendatangi seorang pemuda yang sedang menghadapi sakaratul-maut. Ketika beliau menanyakan keadaannya, pemuda itu menjawab, "Ya Rasulullah, saya selalu mengharap rahmat Allah dan takut atas dosa-dosa saya." Sabda beliau, "Seandainya kedua hal tersebut ada pada diri seseorang, yakni harap dan takut, Allah akan mengabulkan apa yang ia harapkan dan menyelamatkannya dari apa yang ia takuti." (Jam'ul Fawaid).
Sebuah hadits menyebutkan bahwa orang mukmin itu menganggap bahwa dosa-dosa mereka seperti sebuah gunung yang akan runtuh menimpanya dan ia duduk di bawah gunung tersebut. Sedangkan para pendosa menganggap bahwa dosa-dosa mereka seperti seekor lalat yang hinggap di tubuhnya. Dengan disentuh saja, lalat itu akan terbang. la meremehkan dosa-dosanya. Oleh sebab itu, kita hendaknya selalu mengharap rahmat Allah swt. dan takut kepada-Nya karena dosa-dosa kita.
Seorang sahabat, Mu'adz r.a., telah syahid disebabkan penyakit tha'un. Menjelang wafatnya, ia pingsan berkali-kali. Ketika sadar, ia berkata, "Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa aku sangat mencintai-Mu. Demi kemuliaan-Mu, Engkau pasti mengetahui hal ini." Ketika maut sudah mendekat, ia berkata, "Selamat datang wahai maut, engkaulah tamu yang penuh berkah. Sayang, tamu yang penuh berkah ini datang ketika aku dalam kemiskinan." Lalu ia berkata, "Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa setiap saat aku selalu takut kepada-Mu, dan sekarang aku mengharap rahmat-Mu. Ya Allah, aku mencintai hidup, namun bukan untuk mengatur sungai dan mengairi kebun. Tetapi untuk menahan haus pada musim panas, menahan kesusahan demi agama, dan agar dapat duduk bersama para ulama dalam majelis berdzikir kepada-Mu." (Tahdzibul-Lughat).
Sebagian ulama mengulas pernyataan hadits: 'hubungan Allah dengan hamba-Nya bergantung pada sangkaan hamba-Nya,' bukan dalam permintaan ampun saja, tetapi juga dalam segala masalah, termasuk doa kesehatan, ketenteraman, keamanan, dan sebagainya. Misalnya, seorang hamba berdoa dengan yakin bahwa doanya akan dikabulkan oleh Allah swt., maka dengan keyakinannya itu Allah swt. akan mengabulkan doanya. Sebaliknya, jika seseorang menyangka atau hatinya ragu bahwa doanya tidak akan diterima, jelas Allah swt. tidak akan mengabulkan doanya. oleh sebab itu, disebutkan dalam sebuah hadits bahwa doa seseorang itu akan diterima selama ia tidak berkata, "Doaku tidak dikabulkan oleh Allah." Hal ini juga berlaku dalam hal masalah kesehatan, kekayaan, dan lain-lainnya. Hadits lain berbunyi, "Barangsiapa yang kelaparan lalu ia meminta-minta kepada orang lain, maka Allah tidak akan mencukupinya." Seandainya ia mengadukan segala hajatnya kepada Allah swt., niscaya Allah swt. akan menjauhkan segala kesulitannya. Juga diketahui bahwa pentingnya berbaik sangka kepada Allah swt, adalah satu hal, dan sangat mengharapkan bantuan serta ampunan-Nya adalah hal lain. Allah swt. mengingatkan| dengan firman-Nya:
"Dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakanmu dalam (mentaati)] Allah." (Q.s. Luqman: 33).

Maksudnya, jangan sampai syaitan menipu kita sehingga kita terus berbuat dosa karena Allah Maha Pengampun dan Maha Pengasih. Allah swt, berfirman:

"Adakah ia melihat yang ghaib atau ia telah membuat perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pemurah. Sekali-kali tidak." (Q.s. Maryam: 78-79).

Kedua, kalimat 'Barangsiapa berdzikir kepada-Ku, Aku akan senantiasa bersamanya.' Hadits lain menyebutkan, "Jika hamba-Ku mengingat-Ku, maka selama ia menggerakkan bibirnya, Aku selalu bersamanya. Aku benar-benar memperhatikannya dan menurunkan rahmat khusus baginya." Ketiga, kalimat ‘Aku akan mengingatnya dalam majelis malaikat,' yaitu! membangga-banggakannya. Hal ini disebabkan:
1) Karena ketika manusia diciptakan telah ditentukan dalam dirinya unsur taat dan unsur maksiat, sebagaimana akan disebutkan dalam hadits ke-8. Dalam keadaan demikian, maka ketaatan patut dibanggakan.
2) Ketika manusia diciptakan, para malaikat bertanya kepada Allah swt., "Apakah Engkau akan menciptakan makhluk yang akan berbuat kerusakan dan pertumpahan darah di muka bumi ini, padahal kami senantiasa bertasbih dan memuji-Mu?" Karena di dalam diri manusia ada sifat merusak, sedangkan dalam diri malaikat tidak ada unsur tersebut, maka mereka menyatakan, 'Kami hanya bertasbih dan mensucikan-Mu.”
3) Karena ketaatan manusia itu lebih baik daripada ibadah para malaikat, sebab manusia beribadah tanpa musyahadah (menyaksikan langsung alam akhirat), sedangkan malaikat beribadah kepada Allah swt. dengan musyahadah. Itulah yang dimaksud dengan firman Allah swt. bahwa jika mereka melihat surga atau neraka, mereka tidak akan terpengaruh. Dengan demikian, patutlah Allah swt. sangat memuji dan membanggakan mereka yang beribadah dan selalu mengingat-Nya di hadapan para malaikat.

Keempat, kalimat 'Sejauhmana hamba itu mengingat Allah, maka sejauh itu pula Allah lebih mendekatinya dan lebih melimpahkan rahmat dan kasih sayang kepadanya.' Inilah maksud kata 'mendekat atau lari'. Lafazh 'mendekat' menunjukkan kasih sayang Allah swt., akan segera turun ke atas mereka. Sekarang setiap orang tinggal memilih, jika menghendaki rahmat Allah, hendaklah ia meningkatkan amalannya kepada Allah swt..
Kelima, disebutkan bahwa 'jamaah malaikat lebih baik daripada orang-orang yang berdzikir'. Padahal sudah masyhur bahwa manusia adalah makhluk yang termulia. Hal ini disebabkan beberapa hal, yaitu:
1) Lebih baik di sini dilihat dari sisi yang khusus, yaitu para malaikat adalah ma'sum, terbebas dari segala dosa.
2) Karena jumlah malaikat lebih banyak daripada jumlah manusia dan lebih baik daripada kebanyakan manusia. Namun jika dibandingkan dengan seorang mukmin atau Anbiya' a.s., mereka lebih baik daripada malaikat. Di samping itu masih banyak sebab-sebab lainnya yang memerlukan penjelasan panjang dan lebar.